Selasa, 02 Maret 2010
Senin, 09 November 2009
Halo kawan-kawanku! Perkenalkan, namaku Stefani Ratu Lestariningtyas. Aku seneng dipanggil dengan julukan 'Alto'. Alasannya? Aku sendiri tidak tahu. Namanya juga anak-anak. Masih imut-imut! Hehe...
Suatu hari, aku masuk kelas. Aku langsung duduk dan langsung menggambar. Maklum, aku senang sekali menggambar. Namanya juga anak-anak. Biasanya aku gambar kupu-kupu atau burung. Sekali-kali aku mencoba menggambar ikan lumba-lumba, tetapi pasti gambarnya aneh. Namanya juga anak-anak. Hihihi!
Pelajaran pertama adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Ini adalah pelajaran kesukaanku. Karena itulah aku senang menggambar Binatang. Tiba-tiba Ibu Guru menyodorkan kertas ulangan. Ya Ampun! Ada ulangan? Aku belum belajar! Bukannya aku malas belajar, tetapi aku tidak tahu kalau hari ini ada ulangan! Aduuhh! Bagaimana ini?
Aku pulang dengan muka memelas. Aku sedih sekali. Kertas ulangan IPA itu bertuliskan angka tiga dengan tinta merah. Aku bisa menebak, kalau Mama akan langsung memeriksa isi tasku. Pasti aku langsung dimarahi. Aduh!! Dunia terasa begitu kelam bagiku. Pasti aku anak paling tidak beruntung di dunia ini. Mana mungkin kan, kalau seorang anak yang sangat menyukai pelajaran IPA sepertiku bisa mendapat nilai tiga. Rasanya aku ingin lenyap saja dari dunia ini!
"Kak! Minta sedekahnya!" Aku terkejut oleh suara yang begitu berat. Itu adalah suara seorang anak berpakaian compang-camping. "Saya sangat lapar, kak..." katanya lagi. Aku bingung. Apa yang harus kuberikan padanya? Tiba-tiba aku teringat bekal risoles yang Mama berikan padaku. Menurutkum risoles itu tidak enak. Jadi, kusisakan tiga. Aku bingung, masa aku memberikan sisa makanan itu kepada orang lain.
Namun, melihat mata anak kecil itu, tanpa berpikir panjang, aku memberikan sisa risoles itu dan memberikan Rp 3000 padanya.
Anak itu terlihat senang sekali. Dia berjingkrak-jingkrak dan mengucapkan terima kasih kepadaku dan langsung memakannya. Heran. Bagiku, risoles itu tidak enak. Mengapa anak itu memakannya? Lalu, aku langsung duduk di sebelahnya dan bertanya, "Dik, mengapa tidak sekolah?" Dia menjawab dengan mulut penuh risoles, katanya "Mana mungkin, ibu saya meninggal dan ayah saya meninggalkan saya sendiri di jalan," jawabnya. Ya Tuhan! Mana ada ayah yang setega itu? Aku langsung teringat kalau Papa selalu pulang tepat waktu dan membelikanku nasi goreng sea food kesukaanku. "Jadi kehidupanmu bagaimana?" tanyaku lagi. "Saya hidup semampu saya. Kadang-kadang kalau tidak mendapat makanan, saya mencari di tempat sampah. Kan, banyak orang yang suka membuang-buang makanannya. Karena itu, saya sering heran, mengapa mereka dengan mudah membuang nasi mereka?" jawabnya.
Aku pun teringat kalau adikku suka membuang-buang makanannya. "Saya juga ingin sekolah seperti kakak. Kalau saja ayah sedikit berusaha, mungkin minimal saya bisa sekolah sampai kelas dua SD. Pasti menyenangkan bisa sekolah!" ungkapnya. Aku pun merasa sangat bersalah. Hanya karena mendapat nilai tiga, aku merasa kalau dunia ini begitu kelabu. Aku pun pernah sesekali merasa kalau sekolah itu membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Padahal, aku harus bersyukur bisa sekolah. Anak miskin saja ingin sekolah walaupun hanya sampai kelas dua SD. Aku yang sudah kelas lima SD saja benci sekali bersekolah.
Ah! Aku tersadar. Tuhan telah baik sekali padaku. Dia memberiku segalanya dan itu lebih dari cukup. Bayangkan, jika aku adalah si anak miskin, di mana aku tidur? Di mana aku mencari makan? Dan di mana aku bisa mendapat kasih sayang? Memang Mamaku orangnya suka marah-marah, tetapi karena dia sayang padaku. Teman-temanku suka menganggapku aneh karena aku selalu menggambar binatang. Kata mereka, aku anak rimba, tetapi karena mereka perhatian sama aku.
Tanpa sadar, air mataku mengalir terus dan terus. Entah mengapa, aku tak bisa menghentikannya. "Kakak mengapa menangis?" tanya anak itu. Aku terkejut. Anak itu ternyata masih ada di sampingku.
Aku langsung berlari pulang setelah memberikan uang Rp 5000 kepada anak itu. Begitu sampai di rumah, aku langsung memeluk mamaku, dan langsung berkata sambil menangis, "Ma, makasih ya selama ini mama selalu baik sama Aku. Makasih karena selama ini selalu marahin aku. Makasih ya, Ma!" Jelas mamaku heran.
Akan tetapi, aku terkejut ketika mendengar, "Kakak sudah gila, ya? Masa seneng dimarahin mama?" Ternyata itu adikku! Wah, langsung saja aku mengejar adikku yang masih berumur tujuh tahun iti. Akan tetapi, begitu melihat mata adikku, aku merasa melihat mata anak kecil yang kutemui di pinggir jalan tadi. Akhirnya, aku tak jadi memukul adikku, melainkan memeluknya erat-erat. "Kak! Lepasin! Sakit nih! Kakak bau!" teriaknya. Aku langsung mencubit gemas pipi adikku yang tembem itu.
Ah! Tuhan memang baik! Dia memberiku keluarga yang lengkap dan baik! Makasih, Tuhan! Tetapi, kok aku baru mensyukurinya sekarang? Namanya juga anak-anak! Hehe!
Stefani Ratu L.
Kelas 9, SMP Saint Mary, Bandung
Artikel ini asli buatan Stefani Ratu dan dimuat dalam majalah "Komunikasi" yang adalah majalah Keuskupan Bandung.
Stefani Ratu: Ngomong-ngomong, cerita ini nggak beneran, ya!
Minggu, 16 Agustus 2009
Seorang bapak mempunyai beberapa ekor anak anjing yang akan dijualnya. Dia menawarkan anak-anak anjing tersebut dengan menempelkan tulisan di pohon2 di pinggir jalan sekitar rumahnya. Ketika dia sedang memasang tulisan tersebut, dia merasakan tarikan pada celananya. Dia menoleh dan melihat seorang anak lelaki kecil. "Pak," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing bapak." "Yah," kata bapak itu, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya." Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada bapak itu. "Saya punya tujuh belas ribu rupiah. Apakah ini cukup untuk membelinya?" "Tentu," kata bapak itu yang kemudian bersiul, "Dolly, Dolly!" panggilnya. Dolly, ibu anjing, berlari mendekat diikuti oleh anak-anaknya.
Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yang bergerak. Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain. "Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada anak anjing yang kecil itu. Sang bapak berjongkok di sampingnya dan berkata, "Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya. "Anak itu melangkah menjauh dari pagar, lalu menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg dibuat khusus untuknya. Ia memandang sang bapak, dan berkata, "Bapak lihat, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya."
Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.
(Catatan. Baru-baru ini di Thailand, gajah yang kakinya buntung membuat banyak orang menjadi jatuh kasihan dan menggalang dana untuk membuatkan kaki palsu buat si gajah. Sekarang gajah tersebut sudah mempunyai kaki palsu, dan ini menjadi berita dunia karena untuk pertama kalinya di dunia ada seekor gajah memakai kaki palsu dan membuat kaki palsu buat gajah tentunya bukan perkara mudah. Di Inggris, seekor pingguin diberi baju hangat karena buluhnya rontok. Kalau binatang saja manusia (di Negara orang) begitu peduli, apakah kita juga tidak tertarik memperhatikan sesama kita yang kesulitan. Ini mungkin bisa jadi renungan di hari Kemerdekaan. Merdeka!)
Sabtu, 08 Agustus 2009
Tak Gendong... Kemana-mana
Tak Gendong... Kemana-mana
Welah Dalah...!
Seluruh penjuru Saint Mary International High School terdengar potongan tembang itu nih!
Nggak Student, Teacher, Library Keeper, bahkan Security pun nyayiin lagu itu!
Yang bikin aku habis pikir itu, kok saat Mbah Surip meninggal baru pada nyadar kalo lagunya bagus, seperti saat Michael Jackson meninggal, Singing Test pun semua menyanyi lagu MJ... Kebanyakan Heal The World. Kalo Alto sih, nyanyi lagunya Celine Dion, My Heart Will Go On (Kata Rani, so sweet...)
Tak Gendong... Kemana-mana
Tak Gendong... Kemana-mana
Menggendong, biasa kita lakukan pada sesuatu atau seseorang yang kita sayangi, kita pedulikan, atau kita rindukan dan kita hargai sungguh.
Menggendong bukan sekedar membawa, memindahkan tetapi memiliki makna lebih supaya yang kita gendong itu aman, selamat, bahagia, terlindungi karena begitu berharga. Syair yang sederhana itu, mengangkat kesadaran kita Tuhan yang begitu sayang, begitu peduli dan begitu mengasihi kita anak-anak-Nya.
Pada suatu malam, seseorang bermimpi berjalan dengan Tuhan menyusuri pantai yang indah. Di langit tergambar berbagai peristiwa masa lampau hidupnya. Setiap kali dia melihat, ada dua pasang jejak kaki di pasir, satu pasang jejak kaki miliknya dan satu pasang lagi milik Tuhan.
Dalam perjalanan itu dia melihat terkadang hanya ada satu pasang telapak kaki saja. Ketika dia mengingat-ingat, justru saat itulah dia sedang mengalami masa yang paling sulit, menyedihkan dan tak ada harapan.
Melihat perjalanan itu, dia merasa jengkel dan kecewa, dia mengeluh kepada Tuhan dan berkata: "Tuhan, Engkau pernah berkata kepadaku bahwa bila aku memutuskan mengikuti-Mu, Engkau akan selalu menyertaiku! Tapi aku melihat sekarang, justru pada saat-saat paling sulit dalam hidupku, cuma ada jejak satu pasang telapak kaki. Aku tidak mengerti mengapa Engkau meninggalkan kustru pada saat aku membutuhkan-Mu!!!"
Tuhan Menjawab: "Anak-Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu! Kamu hanya melihat jejak satu pasang kaki, karena justru pada saat-saat sulit itulah.... Aku menggendongmu!"
Kita selalu digendong Tuhan ketika saat yang teerrrrsulit datang dan terlihat tak ada harapan lagi. 'Tak Gendong... ke mana-mana. 'Tak Gendong... ke mana-mana. Enah, tho? Mantep, tho?
Alami, Rasakan, Syukuri, dan Jangan dipungkiri!
Tuhan selalu bersamamu, selalu...
Jumat, 17 Juli 2009
T: Roh Kudus tuh apaan sih???
J: Roh Kudus = Allah Bapa = Yesus Kristus
Tapi Tuhan itu cuman satu, bukan tiga!
Cuman sebutannya aja yang beda
Contoh, nih yah: Alto Hebat = Ratu = Fani
- Di Web, kalian memanggilku Alto Hebat (Wajib!)
- Di Sekolah, aku biasa dipanggil Ratu yang adalah Seksi Kerohanian kelas 9.2
- Di Rumah, keluargaku memanggilku Fani
T: Apa sih, bedanya Roh Kudus, Allah sama Yesus???
J:
Allah ->nama yang Tuhan pakai untuk memperkenalkan diri-Nya sendiri supaya manusia bisa memanggil nama-Nya
Yesus ->nama yang Allah pakai ketika Dia turun ke bumi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita manusia berdosa kayak kita dari hukuman neraka. Yesus memang TOP!!!
Roh Kudus ->sesudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, kita diam dalam Dia dan Dia diam dalam kita dalam bentuk Roh Kudus.
T: Apa yang terjadi kalau Roh Kudus "diam" di dalam kita?
J: Busyet! Banyak! Banyak Banget! Roh Kudus itu yah... menghibur, menegur, menguatkan, memberi kuasa dan menyembuhkan. Bayangin deh, kalau ada Roh sehebat itu ada dalam kamu!
T: Bahasa Roh itu apaan sih?
J: Manusia berkomunikasi dengan Tuhan pakai bahasa apapun, karena Tuhan mengerti semua bahasa manusia. Tuhan gitu loh...^^ Tapi, ada saatnya kita punya keluhan dalam hati yang tidak terucapkan lewat bahasa verbal, itu fungsinya bahasa roh, membantu kita "mengeluh" sama Tuhan dan supaya kita lebih dekat lagi dengan Tuhan!
T: Yooo... Gimana caranya mendapatkan Roh Kudus?
J: Man, simple byanget!
Buka hati dan Undang Yesus masuk ke dalam hatimu.
Dijamin 700% kamu akan terus bersama Roh Kudus!
Jumat, 03 Juli 2009
Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. (Efesus 5:15)
Balon. Kelihatannya indah dan menarik, coraknya meriah dan berwarna-warni, lincah dan ringan bergerak kesana kemari. Namun, itu hanya penampakan dari luar, sedang di dalamnya kosong. Tidak ada apa-apa, hanya angin.
Telur. Dari luar tampak tidak semenarik dan secantik balon, tetapi di dalamnya terkandung potensi kehidupan.
Balon dan Telur. Keduanya sama-sama bulat lonjong atau oval, tetapi ada perbedaan esensial.
Balon bisa diumpamakan sebagai "perbuatan kegelapan"; enak, gampang, penuh daya pikat, dan menyenangkan, tetapi tidak berbuahkan apa-apa, kecuali kehampaan dan kesia-siaan. Maka, Paulus menasihati kita supaya tidak ikut bagian di dalamnya.
Sedangkan telur seumpama "perbuatan terang"; tidak gampang, tidak menarik, tetapi di dalamnya terkandung "potensi kehidupan", sebab berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.
Apakah hidupmu seperti balon; penuh "kesemarakan", tetapi kosong dan berujung pada kesia-siaan? Atau menjadi seperti telur; "biasa saja", tetapi "berisi" dan berbuah hal-hal yang indah dalam kehidupan? Tergantung sikap kita. Kalau kita menjadi "penurut-penurut Allah", hidup kita akan menjadi seperti telur. Sebaliknya, kalau kita membiarkan hidup kita dikendalikan oleh "nafsu kedagingan", hidup kita akan menjadi seperti balon. Maka, perlu sekali kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup. Janganlah hidup seperti orang bebal, tetapi hidup seperti orang arif. Setuju??? ^^
Kamis, 02 Juli 2009
Gereja atau Sinagoga itu harus mengumpulkan dana untuk bisa berjalan. Nah, ada sebuah sinagoga Yahudi di mana orang tidak mengedarkan peti dana seperti di gereja-gereja Kristen. Cara mereka mencari dana dengan menjual karcis tempat pada hari Pesta-pesta besar, sebab di situ jemaat yang datang banyak dan orang bersikap murah hati.
Pada hari seperti itu anak kecil datang ke Sinagoga untuk mencari ayahnya, tetapi petugas tidak mengizinkannya masuk, karena ia tidak punya karcis.
"Tetapi," kata si anak, "ini perkara penting sekali."
"Semua berkata begitu," jawab petugas, tak tergerakkan.
Anak jadi putus-asa dan mulai mendesah: "Maaf tuan, biar aku masuk. Ini soal hidup atau mati. Hanya satu menit saja."
Petugas melunak! "Yah, sudah, kalau penting sekali," katanya.
"Tetapi awas, kalau kutemukan engkau berdoa."
Agama teratur tertib, sayangnya punya banyak kelemahan juga.