Halo kawan-kawanku! Perkenalkan, namaku Stefani Ratu Lestariningtyas. Aku seneng dipanggil dengan julukan 'Alto'. Alasannya? Aku sendiri tidak tahu. Namanya juga anak-anak. Masih imut-imut! Hehe...
Suatu hari, aku masuk kelas. Aku langsung duduk dan langsung menggambar. Maklum, aku senang sekali menggambar. Namanya juga anak-anak. Biasanya aku gambar kupu-kupu atau burung. Sekali-kali aku mencoba menggambar ikan lumba-lumba, tetapi pasti gambarnya aneh. Namanya juga anak-anak. Hihihi!
Pelajaran pertama adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Ini adalah pelajaran kesukaanku. Karena itulah aku senang menggambar Binatang. Tiba-tiba Ibu Guru menyodorkan kertas ulangan. Ya Ampun! Ada ulangan? Aku belum belajar! Bukannya aku malas belajar, tetapi aku tidak tahu kalau hari ini ada ulangan! Aduuhh! Bagaimana ini?
Aku pulang dengan muka memelas. Aku sedih sekali. Kertas ulangan IPA itu bertuliskan angka tiga dengan tinta merah. Aku bisa menebak, kalau Mama akan langsung memeriksa isi tasku. Pasti aku langsung dimarahi. Aduh!! Dunia terasa begitu kelam bagiku. Pasti aku anak paling tidak beruntung di dunia ini. Mana mungkin kan, kalau seorang anak yang sangat menyukai pelajaran IPA sepertiku bisa mendapat nilai tiga. Rasanya aku ingin lenyap saja dari dunia ini!
"Kak! Minta sedekahnya!" Aku terkejut oleh suara yang begitu berat. Itu adalah suara seorang anak berpakaian compang-camping. "Saya sangat lapar, kak..." katanya lagi. Aku bingung. Apa yang harus kuberikan padanya? Tiba-tiba aku teringat bekal risoles yang Mama berikan padaku. Menurutkum risoles itu tidak enak. Jadi, kusisakan tiga. Aku bingung, masa aku memberikan sisa makanan itu kepada orang lain.
Namun, melihat mata anak kecil itu, tanpa berpikir panjang, aku memberikan sisa risoles itu dan memberikan Rp 3000 padanya.
Anak itu terlihat senang sekali. Dia berjingkrak-jingkrak dan mengucapkan terima kasih kepadaku dan langsung memakannya. Heran. Bagiku, risoles itu tidak enak. Mengapa anak itu memakannya? Lalu, aku langsung duduk di sebelahnya dan bertanya, "Dik, mengapa tidak sekolah?" Dia menjawab dengan mulut penuh risoles, katanya "Mana mungkin, ibu saya meninggal dan ayah saya meninggalkan saya sendiri di jalan," jawabnya. Ya Tuhan! Mana ada ayah yang setega itu? Aku langsung teringat kalau Papa selalu pulang tepat waktu dan membelikanku nasi goreng sea food kesukaanku. "Jadi kehidupanmu bagaimana?" tanyaku lagi. "Saya hidup semampu saya. Kadang-kadang kalau tidak mendapat makanan, saya mencari di tempat sampah. Kan, banyak orang yang suka membuang-buang makanannya. Karena itu, saya sering heran, mengapa mereka dengan mudah membuang nasi mereka?" jawabnya.
Aku pun teringat kalau adikku suka membuang-buang makanannya. "Saya juga ingin sekolah seperti kakak. Kalau saja ayah sedikit berusaha, mungkin minimal saya bisa sekolah sampai kelas dua SD. Pasti menyenangkan bisa sekolah!" ungkapnya. Aku pun merasa sangat bersalah. Hanya karena mendapat nilai tiga, aku merasa kalau dunia ini begitu kelabu. Aku pun pernah sesekali merasa kalau sekolah itu membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Padahal, aku harus bersyukur bisa sekolah. Anak miskin saja ingin sekolah walaupun hanya sampai kelas dua SD. Aku yang sudah kelas lima SD saja benci sekali bersekolah.
Ah! Aku tersadar. Tuhan telah baik sekali padaku. Dia memberiku segalanya dan itu lebih dari cukup. Bayangkan, jika aku adalah si anak miskin, di mana aku tidur? Di mana aku mencari makan? Dan di mana aku bisa mendapat kasih sayang? Memang Mamaku orangnya suka marah-marah, tetapi karena dia sayang padaku. Teman-temanku suka menganggapku aneh karena aku selalu menggambar binatang. Kata mereka, aku anak rimba, tetapi karena mereka perhatian sama aku.
Tanpa sadar, air mataku mengalir terus dan terus. Entah mengapa, aku tak bisa menghentikannya. "Kakak mengapa menangis?" tanya anak itu. Aku terkejut. Anak itu ternyata masih ada di sampingku.
Aku langsung berlari pulang setelah memberikan uang Rp 5000 kepada anak itu. Begitu sampai di rumah, aku langsung memeluk mamaku, dan langsung berkata sambil menangis, "Ma, makasih ya selama ini mama selalu baik sama Aku. Makasih karena selama ini selalu marahin aku. Makasih ya, Ma!" Jelas mamaku heran.
Akan tetapi, aku terkejut ketika mendengar, "Kakak sudah gila, ya? Masa seneng dimarahin mama?" Ternyata itu adikku! Wah, langsung saja aku mengejar adikku yang masih berumur tujuh tahun iti. Akan tetapi, begitu melihat mata adikku, aku merasa melihat mata anak kecil yang kutemui di pinggir jalan tadi. Akhirnya, aku tak jadi memukul adikku, melainkan memeluknya erat-erat. "Kak! Lepasin! Sakit nih! Kakak bau!" teriaknya. Aku langsung mencubit gemas pipi adikku yang tembem itu.
Ah! Tuhan memang baik! Dia memberiku keluarga yang lengkap dan baik! Makasih, Tuhan! Tetapi, kok aku baru mensyukurinya sekarang? Namanya juga anak-anak! Hehe!
Stefani Ratu L.
Kelas 9, SMP Saint Mary, Bandung
Artikel ini asli buatan Stefani Ratu dan dimuat dalam majalah "Komunikasi" yang adalah majalah Keuskupan Bandung.
Stefani Ratu: Ngomong-ngomong, cerita ini nggak beneran, ya!
Senin, 09 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar