Halo kawan-kawanku! Perkenalkan, namaku Stefani Ratu Lestariningtyas. Aku seneng dipanggil dengan julukan 'Alto'. Alasannya? Aku sendiri tidak tahu. Namanya juga anak-anak. Masih imut-imut! Hehe...
Suatu hari, aku masuk kelas. Aku langsung duduk dan langsung menggambar. Maklum, aku senang sekali menggambar. Namanya juga anak-anak. Biasanya aku gambar kupu-kupu atau burung. Sekali-kali aku mencoba menggambar ikan lumba-lumba, tetapi pasti gambarnya aneh. Namanya juga anak-anak. Hihihi!
Pelajaran pertama adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Ini adalah pelajaran kesukaanku. Karena itulah aku senang menggambar Binatang. Tiba-tiba Ibu Guru menyodorkan kertas ulangan. Ya Ampun! Ada ulangan? Aku belum belajar! Bukannya aku malas belajar, tetapi aku tidak tahu kalau hari ini ada ulangan! Aduuhh! Bagaimana ini?
Aku pulang dengan muka memelas. Aku sedih sekali. Kertas ulangan IPA itu bertuliskan angka tiga dengan tinta merah. Aku bisa menebak, kalau Mama akan langsung memeriksa isi tasku. Pasti aku langsung dimarahi. Aduh!! Dunia terasa begitu kelam bagiku. Pasti aku anak paling tidak beruntung di dunia ini. Mana mungkin kan, kalau seorang anak yang sangat menyukai pelajaran IPA sepertiku bisa mendapat nilai tiga. Rasanya aku ingin lenyap saja dari dunia ini!
"Kak! Minta sedekahnya!" Aku terkejut oleh suara yang begitu berat. Itu adalah suara seorang anak berpakaian compang-camping. "Saya sangat lapar, kak..." katanya lagi. Aku bingung. Apa yang harus kuberikan padanya? Tiba-tiba aku teringat bekal risoles yang Mama berikan padaku. Menurutkum risoles itu tidak enak. Jadi, kusisakan tiga. Aku bingung, masa aku memberikan sisa makanan itu kepada orang lain.
Namun, melihat mata anak kecil itu, tanpa berpikir panjang, aku memberikan sisa risoles itu dan memberikan Rp 3000 padanya.
Anak itu terlihat senang sekali. Dia berjingkrak-jingkrak dan mengucapkan terima kasih kepadaku dan langsung memakannya. Heran. Bagiku, risoles itu tidak enak. Mengapa anak itu memakannya? Lalu, aku langsung duduk di sebelahnya dan bertanya, "Dik, mengapa tidak sekolah?" Dia menjawab dengan mulut penuh risoles, katanya "Mana mungkin, ibu saya meninggal dan ayah saya meninggalkan saya sendiri di jalan," jawabnya. Ya Tuhan! Mana ada ayah yang setega itu? Aku langsung teringat kalau Papa selalu pulang tepat waktu dan membelikanku nasi goreng sea food kesukaanku. "Jadi kehidupanmu bagaimana?" tanyaku lagi. "Saya hidup semampu saya. Kadang-kadang kalau tidak mendapat makanan, saya mencari di tempat sampah. Kan, banyak orang yang suka membuang-buang makanannya. Karena itu, saya sering heran, mengapa mereka dengan mudah membuang nasi mereka?" jawabnya.
Aku pun teringat kalau adikku suka membuang-buang makanannya. "Saya juga ingin sekolah seperti kakak. Kalau saja ayah sedikit berusaha, mungkin minimal saya bisa sekolah sampai kelas dua SD. Pasti menyenangkan bisa sekolah!" ungkapnya. Aku pun merasa sangat bersalah. Hanya karena mendapat nilai tiga, aku merasa kalau dunia ini begitu kelabu. Aku pun pernah sesekali merasa kalau sekolah itu membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Padahal, aku harus bersyukur bisa sekolah. Anak miskin saja ingin sekolah walaupun hanya sampai kelas dua SD. Aku yang sudah kelas lima SD saja benci sekali bersekolah.
Ah! Aku tersadar. Tuhan telah baik sekali padaku. Dia memberiku segalanya dan itu lebih dari cukup. Bayangkan, jika aku adalah si anak miskin, di mana aku tidur? Di mana aku mencari makan? Dan di mana aku bisa mendapat kasih sayang? Memang Mamaku orangnya suka marah-marah, tetapi karena dia sayang padaku. Teman-temanku suka menganggapku aneh karena aku selalu menggambar binatang. Kata mereka, aku anak rimba, tetapi karena mereka perhatian sama aku.
Tanpa sadar, air mataku mengalir terus dan terus. Entah mengapa, aku tak bisa menghentikannya. "Kakak mengapa menangis?" tanya anak itu. Aku terkejut. Anak itu ternyata masih ada di sampingku.
Aku langsung berlari pulang setelah memberikan uang Rp 5000 kepada anak itu. Begitu sampai di rumah, aku langsung memeluk mamaku, dan langsung berkata sambil menangis, "Ma, makasih ya selama ini mama selalu baik sama Aku. Makasih karena selama ini selalu marahin aku. Makasih ya, Ma!" Jelas mamaku heran.
Akan tetapi, aku terkejut ketika mendengar, "Kakak sudah gila, ya? Masa seneng dimarahin mama?" Ternyata itu adikku! Wah, langsung saja aku mengejar adikku yang masih berumur tujuh tahun iti. Akan tetapi, begitu melihat mata adikku, aku merasa melihat mata anak kecil yang kutemui di pinggir jalan tadi. Akhirnya, aku tak jadi memukul adikku, melainkan memeluknya erat-erat. "Kak! Lepasin! Sakit nih! Kakak bau!" teriaknya. Aku langsung mencubit gemas pipi adikku yang tembem itu.
Ah! Tuhan memang baik! Dia memberiku keluarga yang lengkap dan baik! Makasih, Tuhan! Tetapi, kok aku baru mensyukurinya sekarang? Namanya juga anak-anak! Hehe!
Stefani Ratu L.
Kelas 9, SMP Saint Mary, Bandung
Artikel ini asli buatan Stefani Ratu dan dimuat dalam majalah "Komunikasi" yang adalah majalah Keuskupan Bandung.
Stefani Ratu: Ngomong-ngomong, cerita ini nggak beneran, ya!
Senin, 09 November 2009
Minggu, 16 Agustus 2009
Seorang bapak mempunyai beberapa ekor anak anjing yang akan dijualnya. Dia menawarkan anak-anak anjing tersebut dengan menempelkan tulisan di pohon2 di pinggir jalan sekitar rumahnya. Ketika dia sedang memasang tulisan tersebut, dia merasakan tarikan pada celananya. Dia menoleh dan melihat seorang anak lelaki kecil. "Pak," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing bapak." "Yah," kata bapak itu, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya." Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada bapak itu. "Saya punya tujuh belas ribu rupiah. Apakah ini cukup untuk membelinya?" "Tentu," kata bapak itu yang kemudian bersiul, "Dolly, Dolly!" panggilnya. Dolly, ibu anjing, berlari mendekat diikuti oleh anak-anaknya.
Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yang bergerak. Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain. "Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada anak anjing yang kecil itu. Sang bapak berjongkok di sampingnya dan berkata, "Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya. "Anak itu melangkah menjauh dari pagar, lalu menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg dibuat khusus untuknya. Ia memandang sang bapak, dan berkata, "Bapak lihat, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya."
Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.
(Catatan. Baru-baru ini di Thailand, gajah yang kakinya buntung membuat banyak orang menjadi jatuh kasihan dan menggalang dana untuk membuatkan kaki palsu buat si gajah. Sekarang gajah tersebut sudah mempunyai kaki palsu, dan ini menjadi berita dunia karena untuk pertama kalinya di dunia ada seekor gajah memakai kaki palsu dan membuat kaki palsu buat gajah tentunya bukan perkara mudah. Di Inggris, seekor pingguin diberi baju hangat karena buluhnya rontok. Kalau binatang saja manusia (di Negara orang) begitu peduli, apakah kita juga tidak tertarik memperhatikan sesama kita yang kesulitan. Ini mungkin bisa jadi renungan di hari Kemerdekaan. Merdeka!)
Sabtu, 08 Agustus 2009
Tak Gendong... Kemana-mana
Tak Gendong... Kemana-mana
Welah Dalah...!
Seluruh penjuru Saint Mary International High School terdengar potongan tembang itu nih!
Nggak Student, Teacher, Library Keeper, bahkan Security pun nyayiin lagu itu!
Yang bikin aku habis pikir itu, kok saat Mbah Surip meninggal baru pada nyadar kalo lagunya bagus, seperti saat Michael Jackson meninggal, Singing Test pun semua menyanyi lagu MJ... Kebanyakan Heal The World. Kalo Alto sih, nyanyi lagunya Celine Dion, My Heart Will Go On (Kata Rani, so sweet...)
Tak Gendong... Kemana-mana
Tak Gendong... Kemana-mana
Menggendong, biasa kita lakukan pada sesuatu atau seseorang yang kita sayangi, kita pedulikan, atau kita rindukan dan kita hargai sungguh.
Menggendong bukan sekedar membawa, memindahkan tetapi memiliki makna lebih supaya yang kita gendong itu aman, selamat, bahagia, terlindungi karena begitu berharga. Syair yang sederhana itu, mengangkat kesadaran kita Tuhan yang begitu sayang, begitu peduli dan begitu mengasihi kita anak-anak-Nya.
Pada suatu malam, seseorang bermimpi berjalan dengan Tuhan menyusuri pantai yang indah. Di langit tergambar berbagai peristiwa masa lampau hidupnya. Setiap kali dia melihat, ada dua pasang jejak kaki di pasir, satu pasang jejak kaki miliknya dan satu pasang lagi milik Tuhan.
Dalam perjalanan itu dia melihat terkadang hanya ada satu pasang telapak kaki saja. Ketika dia mengingat-ingat, justru saat itulah dia sedang mengalami masa yang paling sulit, menyedihkan dan tak ada harapan.
Melihat perjalanan itu, dia merasa jengkel dan kecewa, dia mengeluh kepada Tuhan dan berkata: "Tuhan, Engkau pernah berkata kepadaku bahwa bila aku memutuskan mengikuti-Mu, Engkau akan selalu menyertaiku! Tapi aku melihat sekarang, justru pada saat-saat paling sulit dalam hidupku, cuma ada jejak satu pasang telapak kaki. Aku tidak mengerti mengapa Engkau meninggalkan kustru pada saat aku membutuhkan-Mu!!!"
Tuhan Menjawab: "Anak-Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu! Kamu hanya melihat jejak satu pasang kaki, karena justru pada saat-saat sulit itulah.... Aku menggendongmu!"
Kita selalu digendong Tuhan ketika saat yang teerrrrsulit datang dan terlihat tak ada harapan lagi. 'Tak Gendong... ke mana-mana. 'Tak Gendong... ke mana-mana. Enah, tho? Mantep, tho?
Alami, Rasakan, Syukuri, dan Jangan dipungkiri!
Tuhan selalu bersamamu, selalu...
Jumat, 17 Juli 2009
T: Roh Kudus tuh apaan sih???
J: Roh Kudus = Allah Bapa = Yesus Kristus
Tapi Tuhan itu cuman satu, bukan tiga!
Cuman sebutannya aja yang beda
Contoh, nih yah: Alto Hebat = Ratu = Fani
- Di Web, kalian memanggilku Alto Hebat (Wajib!)
- Di Sekolah, aku biasa dipanggil Ratu yang adalah Seksi Kerohanian kelas 9.2
- Di Rumah, keluargaku memanggilku Fani
T: Apa sih, bedanya Roh Kudus, Allah sama Yesus???
J:
Allah ->nama yang Tuhan pakai untuk memperkenalkan diri-Nya sendiri supaya manusia bisa memanggil nama-Nya
Yesus ->nama yang Allah pakai ketika Dia turun ke bumi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita manusia berdosa kayak kita dari hukuman neraka. Yesus memang TOP!!!
Roh Kudus ->sesudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, kita diam dalam Dia dan Dia diam dalam kita dalam bentuk Roh Kudus.
T: Apa yang terjadi kalau Roh Kudus "diam" di dalam kita?
J: Busyet! Banyak! Banyak Banget! Roh Kudus itu yah... menghibur, menegur, menguatkan, memberi kuasa dan menyembuhkan. Bayangin deh, kalau ada Roh sehebat itu ada dalam kamu!
T: Bahasa Roh itu apaan sih?
J: Manusia berkomunikasi dengan Tuhan pakai bahasa apapun, karena Tuhan mengerti semua bahasa manusia. Tuhan gitu loh...^^ Tapi, ada saatnya kita punya keluhan dalam hati yang tidak terucapkan lewat bahasa verbal, itu fungsinya bahasa roh, membantu kita "mengeluh" sama Tuhan dan supaya kita lebih dekat lagi dengan Tuhan!
T: Yooo... Gimana caranya mendapatkan Roh Kudus?
J: Man, simple byanget!
Buka hati dan Undang Yesus masuk ke dalam hatimu.
Dijamin 700% kamu akan terus bersama Roh Kudus!
Jumat, 03 Juli 2009
Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. (Efesus 5:15)
Balon. Kelihatannya indah dan menarik, coraknya meriah dan berwarna-warni, lincah dan ringan bergerak kesana kemari. Namun, itu hanya penampakan dari luar, sedang di dalamnya kosong. Tidak ada apa-apa, hanya angin.
Telur. Dari luar tampak tidak semenarik dan secantik balon, tetapi di dalamnya terkandung potensi kehidupan.
Balon dan Telur. Keduanya sama-sama bulat lonjong atau oval, tetapi ada perbedaan esensial.
Balon bisa diumpamakan sebagai "perbuatan kegelapan"; enak, gampang, penuh daya pikat, dan menyenangkan, tetapi tidak berbuahkan apa-apa, kecuali kehampaan dan kesia-siaan. Maka, Paulus menasihati kita supaya tidak ikut bagian di dalamnya.
Sedangkan telur seumpama "perbuatan terang"; tidak gampang, tidak menarik, tetapi di dalamnya terkandung "potensi kehidupan", sebab berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.
Apakah hidupmu seperti balon; penuh "kesemarakan", tetapi kosong dan berujung pada kesia-siaan? Atau menjadi seperti telur; "biasa saja", tetapi "berisi" dan berbuah hal-hal yang indah dalam kehidupan? Tergantung sikap kita. Kalau kita menjadi "penurut-penurut Allah", hidup kita akan menjadi seperti telur. Sebaliknya, kalau kita membiarkan hidup kita dikendalikan oleh "nafsu kedagingan", hidup kita akan menjadi seperti balon. Maka, perlu sekali kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup. Janganlah hidup seperti orang bebal, tetapi hidup seperti orang arif. Setuju??? ^^
Kamis, 02 Juli 2009
Gereja atau Sinagoga itu harus mengumpulkan dana untuk bisa berjalan. Nah, ada sebuah sinagoga Yahudi di mana orang tidak mengedarkan peti dana seperti di gereja-gereja Kristen. Cara mereka mencari dana dengan menjual karcis tempat pada hari Pesta-pesta besar, sebab di situ jemaat yang datang banyak dan orang bersikap murah hati.
Pada hari seperti itu anak kecil datang ke Sinagoga untuk mencari ayahnya, tetapi petugas tidak mengizinkannya masuk, karena ia tidak punya karcis.
"Tetapi," kata si anak, "ini perkara penting sekali."
"Semua berkata begitu," jawab petugas, tak tergerakkan.
Anak jadi putus-asa dan mulai mendesah: "Maaf tuan, biar aku masuk. Ini soal hidup atau mati. Hanya satu menit saja."
Petugas melunak! "Yah, sudah, kalau penting sekali," katanya.
"Tetapi awas, kalau kutemukan engkau berdoa."
Agama teratur tertib, sayangnya punya banyak kelemahan juga.
...namun kadang-kadang, hal seperti ini baik juga...
Seseorang berkata kepada pastor paroki, "Pastor, kemarin anjing saya mati. Dapatkah pastor mempersembahkan misa untuk kedamaian jiwanya?"
Pastor itu marah. "Kami tidak mempersembahkan misa untuk binatang," katanya tajam. "Mungkin dapat engkau coba di gereja baru di sebelah sana. Mungkin mereka mau berdoa untuk anjingmu."
"Saya sungguh mencintai mahluk kecil itu," kata orang itu, "dan saya ingin melepasnya dengan baik. Saya tidak tahu berapa biasanya yang dipersembahkan untuk kesempatan-kesempatan ini. Apakah lima ratus dollar cukup?"
"Tunggu Sebentar," kata pastor itu. "Engkau tadi tidak mengatakan kepada saya bahwa anjingmu katolik!"
Seorang Magang berlutut untuk dilantik menjadi murid. Guru membisikkan suatu mantra rahasia ke telinganya, sambil memberi peringatan kepadanya agar tidak mengatakannya pada orang lain.
"Apa yang akan terjadi seandainya saya mengatakannya?" sahut magang itu.
Guru berkata, "Orang yang kau beritahu mantra itu akan dibebaskan dari belenggu kebodohan dan penderitaan,akan tetapi engkau sendiri akan dikucilkan dari lingkungan murid dan menderita."
Segera sesudah ia mendengar kata-kata ini,maganag itu lari di tengah-tengah pasar, mengumpulkan orang banyak di sekitarnya dan memberitahukan mantra rahasia ini kepada semua orang.
Kemudian para murid memberitahukan hal itu kepada guru dan minta supaya orang itu diusir dari pertapaan karena tidak taat.
Guru tersenyum dan berkata, "Ia tidak perlu saya ajar lagi. Tindakannya menunjukkan bahwa ia sendiri adalah guru."
Seorang pengemis melihat seorang banker keluar dari kantornya dan berkata, “Dapatkah tuan memberi s
aya barang seratus rupiah untuk membeli segelas kopi?”
Banker itu merasa kasihan terhadap orang yang kelihatan basah dan bingung itu. Ia berkata, “Ini seribu rupiah. Ambil dan minumlah sepuluh gelas.”
Hari berikutnya pengemis itu berada di tempat yang sama lagi, di tangga masuk kantor banker itu. Ketika banker itu keluar ia menepuknya.
“He, kau buat apa di sini?” kata banker itu.
“Persetan kau dan sepuluh gelas kopimu! Semalam-malaman saya tidak dapat tidur!”
Saya mengakui bahwa saya membantu kamu. Sekarang, dapatkah engkau mengampuni saya dan membiarkan saya pergi?Rabu, 01 Juli 2009
Pada hari amat dingin seorang rabbi dan murid-muridnya berkerumun di sekitar perapian. Salah seorang dari murid menirukan ajaran gurunya berkata: "Pada hari dingin beku seperti ini aku tahu apa yang harus kulakukan!"
"Apa?" tanya yang lain.
"Jaga Kehangatan! Dan kalau itu tidak mungkin, aku masih tahu apa yang harus kulakukan."
"Apa?"
"Menjadi beku."
Keadaan sekarang itu sebetulnya tidak dapat ditolak atau diterima.
Lari menjauh itu
seperti lari menjauh dari kakimu
menerimanya
itu seperti mencium bibirmu sendiri.
Apa yang harus kau kerjakan hanya melihat, mengerti dan tenang saja.
…dan tanggapan-tanggapan yang sudah terprogram.
Seorang ilmuwan sudah bekerja selama 10 tahun menyelidiki kemungkinan mengubah air menjadi minyak. Ia yakin bahwa yang dibutuhkan hanyalah suatu zat yang dapat menyebabkan perubahan yang dibutuhkan. Namun kendati ia mencoba, hasilnya belum ada.
Pada suatu hari ia mendengar bahwa jauh di pegunungan Tibet, hiduplah seorang Pertapa yang mahatahu dan dapat memberitahukan kepadanya zat-zat yang ia cari-cari.
Namun ada 3 syarat : ia harus berjalan ke sana seorang diri, dan perjalanan itu berbahaya; ia harus berjalan kaki, dan perjalanan itu sulit; dan seandainya ia dapat menjalankan syarat-syarat ini dan sampai ke tempat Pertapa, ia hanya diperbolehkan mengajukan 1 pertanyaan, satu saja.
Ia membutuhkan beberapa bulan, mengalami kesulitan dan menghadapi bahaya untuk memenuhi kedua syarat pertama. Dan ketika ia dibawa menghadap Pertapa, coba bayangkan betapa terkejut. Ia melihat bahwa Pertapa bukanlah seorang tua, keriput, berjenggot sebagaimana ia bayangkan, akan tetapi seorang wanita muda, ayu, jauh lebih cantik daripada segala sesuatu yang ia bayangkan.
Pertapa tersenyum manis, dan dengan suara yang sangat embut, ia berkata, ”Selamat, pengembara! Engkau sudah sampai ke tempat pegunungan ini. Apakah pertanyaanmu?”
Di akhir cerita ini, ini memberikan dua opsi. Saya pikir anda akan memilih apa yang saya pilih….
Suaminya David mengenggam tangannya dan berusaha menahan emosinya atas berita yang baru saja di dengarnya.Siang itu pada tanggal 10 maret 1991, Diana mengalamai komplikasi pada kandungannya. Di usia kandungan baru 24 minggu dia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.Maka lahirlah anak Perempuan pasangan itu, yang bernama Dana Lu Blesing. Yang hanya 12 inci dan beratnya hanya satu pound sembilan ons (0.86 kg).

Dan perkataan dokter yang lembut rasanya seperti bom bagi mereka. Dokter mengatakan dengan sebaik-baiknya " Saya tidak yakin, anak ini akan dapat bertahan"
Hanya ada kemungkinan 10 persen, dia kan melewati malam ini. Dan jika dapat bertahan, hanya ada kesempatan yang sangat kecil dia dapat bertahan, masa depannya akan sangat kejam.
Dengan rasa tidak percaya, David dan Diana mendengarkan apa yang dokter jelaskan tentang sesuatu yang sangat buruk. Dana sangat tidak mungkin untuk selamat."Dana tidak akan dapat berjalan, dia tidak akan dapat berbicara, dia kemungkinan akan buta, dan dia pasti akan mudah untuk dapat menderita catastrophic (masalah besar) dari Celebral plasty ( idiot) dan penghambatan perkembangan mental dan lain sebagainya."?
" Tidak mungkin" Kata Diana tidak percaya. Dia dan David suaminya dan anak lelakinya Dustin yang berumur 5 tahun, telah lama mendambakan seorang putri di dalam anggota keluarganya.
sekarang mimpi itu telah terwujud….
Tetapi setelah hari itu berlalu, dan penderitaan baru di dalam keluarga itu. Karena Dana mengalami pertumbuhan system sel saraf yang sangat lambat sehingga cahaya atau sentuhan dapat membuat dia merasa kesakitan ( tidak nyaman), jadi mereka tidak dapat menggendong bayi mungil itu di dada. Dan memberikan rasa cinta yang besar. Semua mereka lakukan untuk berdoa supaya Tuhan mau berjaga di dekat putri mereka yang berharga, dan Dana berjuang sendirian dibawah lampu sinar ultraviolet di dalam incubator.Mereka tidak melupakan bagaimana Dana bertumbuh dan akhirnya menjadi semakin kuat.

Minggu demi minggu berlalu, Dana tumbuh dengan lambat tetapi pasti. Berat dan kekuatannya juga semakin bertambah
Akhirnya setelah dana berusia dua bulan. Mereka mendapatkan ijin untuk menyentuh dana dengan tangan untuk pertama kalinya.
Dan dua bulan kemudian, dokter memperingatkan dengan lembut kemungkinan yang suram yang akan terjadi, kesempatannya sangat kecil untuk bertahan dan hidup dengan normal. Semuanya sangat kecil sekali. Dan Dana bisa di bawa pulang dari rumah sakit, seperti yang diinginkan ibunya.
Lima Tahun kemudian, Dana telah menjadi seorang gadis kecil yang mungil dengan mata abu-abunya yang cerah dan semangat hidup yang luar biasa.
Tidak ada tanda-tanda akan mengalami suatu gangguan mental atau fisik yang akan di deritanya. Dia seperti gadis kecil yang normal dengan segala aktifitasnya. Tetapi cerita tidak berakhir disini.
Di suatu siang yang panas, pada musim panas tahun 1996 di dekat rumah mereka di Irving, Texas. Dana sedang duduk di pangkuan ibunya, di sebuah lapangan bola setempat, dimana saudaranya Dustin sedang latihan baseball bersama teamnya,Seperti biasa, Dana mengoceh tanpa henti kepada ibunya dan beberapa orang dewasa duduk di dekat mereka ketika tiba-tiba Dana terdiam. Dana memeluk tangan ibunya dan merangkulkannya ke tubuh mungilnya. Lalu ia bertanya.."Mama,… mama mencium sesuatu…?" Mamanya mencoba membaui udara dan berusaha mendeteksi akan mendekatnya badai. "Ya,… Baunya seperti akan hujan…" Diana menjawab Dana memandang mata ibunya dan bertanya lagi"Mama mencium baunya …?"
Sekal
i lagi ibunya mejawab " Ya… saya pikir nanti akan hujan. Karena baunya seperti hujan." Masih dalam dekapan ibunya, Dana mengelengkan kepalanya dan menepuk pundak ibunya dengan tangan mungilnya. Dengan perlahan dia mengatakan"Bukan, Baunya seperti DIA…"Itu baunya TUHAN, ketika kamu medekap ke dadaNYA…
Air mata mengalir ke pipi Diana karena Dana karena kebahagian dan pertolongan sehingga Dana dapat seperti anak lainnya. Sebelum hujan turun, perkataan Dana mengingatkan Diana akan keberadaan Dana dalam keluarga itu, di dalam hatinya selama ini.
Pada saat hari-hari yang panjang di dalam dua bulan pertama kehidupan Dana, ketika system sarafnya sensitive terhadap sentuhan sekalipun. Pada saat Dana tidak dapat di dekapnya di dalam pelukannya sekalipun ibunya sangat menginginkanya. TUHAN telah mendekap Dana di dalam pelukanNya dan menjaganya. Dan Bau Cinta Tuhan yang telah diingat oleh Dana sangat baik.
Sekarang, Anda punya 2 pilihan. Anda dapat memforward cerita ini dan membiarkan orang yang sedang tawar hatinya mengalami apa yang anda alami atau anda dapat menghapus cerita ini dan mengatakan itu sangat tidak menyentuh saya, atau itu bukan kewajiban saya.
- Bacalah dengan Teliti... Ini sangat Penting!!!
- Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Maka, ayahnya memberi dia sekantung penuh paku dan menyuruhnya memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabaran atau berselisih paham dengan orang lain.
- Hari pertama, dia memaku 37 batang paku di pagar. Hari berikutnya, dia belajar untuk menahan diri dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih mudah menahan diri daripada memaku di pagar.
- Akhirnya tiba hari dimana ia tidak perlu memaku sebatang paku pun. Dengan gembira, disampaikan hal itu pada ayahnya.
- Kemudian ayanhnya menyuruhnya mencabut sebatang paku setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu, dan akhirnya tiba saatnya dia bisa menyampaikan pada ayahnya bahwa semua paku sudah berhasil tercabut dari pagar.
- Sang Ayah membawa anaknya ke pagar pekarangan dan berkata: "Anakku, kamu s
udah berlaku baik. Tetapi, coba lihat, berapa banyak lubang (luka) yang terdapat di pagar..."
- Pagar ini tidak dapat kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham dengan orang lain, itu sama saja dengan meninggalkan luka di pagar.
- Kau bisa saja menusukkan pisau ke punggung orang lain dan menariknya kembali, tetapi hanya akan meninggalkan luka. Tidak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama saja perihnya dengan luka fisik.
- Kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu ssemangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan. Mereka menunjan
g dan membuka pintu hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu bahwa kau menyukai mereka.
- Kirim Surat ini kepada mereka yang percayakan sebagai teman, walaupun artinya kau mengembalikannya kepada yang memberikan ini kepadamu. Bila pesan ini kembali kepadamu, berarti bahwa kau memiliki lingkaran teman.
- Beberapa baris untuk direnungkan...
- Jika kau membaca pesan ini, ketahuilah bahwa ada orang yang bermaksud baik kepadamu dan bahwa dari dirimu ada juga orang yang kau kasihi.
- Jika kau terlalu sibuk untuk menyisihkan beberapa menit untuk meneruskan ini kepada orang lain sehingga kau berpikir, "Saya akan melakukannya beberapa hari mendatang..." Lupakan saja. Karena mungkin kau tidak akan pernah melakukannya. (Tantra ini datang dari India Utara)

- 1. Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan, dan lakukan secara bijaksana
- 2. Yakinlah kepada dirimu ketika mengatakan, "Aku Menyayangimu..."
3. Jika kau berkata, "Aku menyesal", tataplah mata lawan bicaramu.- 4. Jangan permainkan harapan orang lain. Mungkin kau bisa tersinggung, tetapi itulah satu-satunya jalan untuk menjalani hidupmu.
- 5. Jangan adili orang lain, tetapi adili dirimu secara kritis
- 6. Bicaralah pelan, tetapi cepat dalam berpikir.
- 7. Jika kau ditanya sesuatu yang tidak ingin kau jawab, tersenyumlah dan jawab, "Mengapa kamu ingin tahu?
- 8. Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak resiko.
- 9. Jika kau kalah, jangan lupakan pelajaran di balik kekalahan itu.
- 10. Hargai dirimu. Hargai Orang Lain. Bertanggung Jawablah atas segala tindakanmu.
- 11. Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan.
- 12. Tersenyumlah ketika menjawab telepon. Orang yang meneleponmu akan mendengarnya dari suaramu.
- 13. Bila kau tidak mendapat yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.
Kirim pesan ini kepada paling kurang 5 orang dan hidupmu akan menjadi lebih baik.
- 1-5 orang = Hidupmu akan menjadi lebih baik
- 6-10 orang = Hidup menjadi lebih baik dan harapanmu akan terpenuhi
- 11-15 orang = Kau akan mendapat 5 kejutan dalam 3 minggu mendatang.
- 16 lebih = Hidupmu menjadi sangat baik, dan apa yang pernah kau impikan mulai menjadi kenyataan
- Ada dua orang yang sedang melakukan perjalanan ke negeri seberang. Orang pertama sangat beriman Khatolik, sedangkan orang satunya adalah seorang Atheis.
- Orang beriman berkata, "Tuhan itu baik". Maka kata si orang Atheis, "oke. Mari kita lihat."
- Mereka sudah tiba di sebuah perkampungan. Saat itu tengah malam. Maka mereka putuskan untuk menginap di kampung tersebut. Namun sayang, tak ada seorang pun yang mengijinkan mereka menginap di rumah mereka. Maka kedua orang tersebut memutuskan untuk tidur di tepi hutan.
- Kata orang Atheis, "Rasanya kamu mengatakan kalau Tuhan itu baik. Jika ia baik, ia akan menyuruh seseorang untuk mengijinkan kita menginap." Namun orang Beriman itu berkata, "Tempat ini adalah tempat terbaik kita beristirahat. Sudah jelas Tuhan itu baik."
- Ketika mereka terlelap, tiba-tiba terdengar suara auman. Ternyata ada seekor singa yang memakan keledai mereka. Setelah mereka berdua bersembunyi, si Pria Atheis berkata, "Tuhan memang baik..." Jawab orang beriman itu, "Keledai itu menyelamatkan kita. Jika keledai itu tidak ada, maka kita yang akan diterkam singa itu."
- Ketika mereka berusaha tidur kembali, terdengar teriakan lagi. Seekor anjing liar menerkam ayam mereka. Sebelum Pria Atheis itu berkata, Pria beriman itu berkata, "Ayam itu menyelamatkan kita sekali lagi. Tuhan benar-benar baik."
- Ketika hampir tertidur, obor satu-satunya yang menerangi mereka mati tertiup angin. Kata Pria Atheis itu, "Rupanya Kabaikan Tuhan bekerja sepanjang malam..." Kali ini Pria beriman itu tidak menjawab.
- Keesokan harinya, ketika dua orang itu hendak membeli bekal perjalanan, mereka dikejutkan oleh berita bahwa malam tadi banyak perampok yang mencuri barang-barang mereka. Pria beriman itu tersebyum dan berkata,
"Nah... Sudah jelas bahwa Tuhan itu baik. Jika kita menginap disini, kita juga akan ikut dirampok. Jika obor kita tidak mati, kita akan terlihat para perampok itu dan kita juga akan ikut dirampok. Sudah jelas Tuhan itu baik..."
Kini, biarkan saya bertanya...
Seberapa Jauhkah anda mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada anda???
Tak peduli kita Baik atau Jahat
Tak Peduli Kita kaya atau miskin
Tak peduli Seberapa tinggi kedudukan kita...
Tuhan Memang Baik...